kisah dari bapak lafran pane yang sederhana dan sabar
budi santoso
wasekum ptkp
komisariat insan cita madina
Kisah Sepeda Tua Profesor Lafran Pane, ”Pemilik” HMI yang Sederhana, Santun dan Sabar
Kamis, 06 Desember 2018
Bila para kader HMI ingin menengok
kesederhanaan dan keteguhan hati dalam menjalani hidup, teladan ini sudah
diberikan oleh pendirinya, yakni Prof Drs Lafran Pane. Almarhum Guru Besar Tata
Negara IKIP Yogyakarta ini telah memberikan contohnya secara konkret. Lafran
yang lahir di Padangsidempuan, 5 Februari 1922, sangat terkenal dengan sikap
hidup yang qanaah itu.''Saya terkesima dan terkesan dengan sikap hidup Profesor
Lafran yang sangat sederhana dan selalu merasa cukup. Beliau punya intelegensia
yang tinggi sekaligus orang yang sangat teguh hati. Yang paling penting lagi
beliau sangat terbuka untuk dikritik serta melakukan dialog,'' kata mantan Anggota DPR dan sekaligus mantan Ketua Umum HMI Cabang
Yogyakarta periode 1983-1984, Lukman Hakiem.
Menurut dia, kesederhanaan hidup dari Lafran itu terlihat jelas
dalam sikapnya yang selalu memilih naik sepeda ke manapun perginya di
Yogyakarta. Tak peduli menjadi guru besar di berbagai universitas terkemuka dan
tak peduli merasa risi bersaingan dengan mahasiswanya yang saat itu sudah
banyak naik sepeda motor, Lafran tetap ”istiqamah” memilih mengayuh sepeda
onthelnya. Bahkan, ketika dia diisengi oleh para mahasiswanya dengan
mengerakkan sepedanya di tiang bendera di depan kampus, dia pun menanggapinya
dengan sikap biasa saja.
''Ya, itulah Pak Lafran. Bahkan, ketika para alumni merasa terenyuh
ingin mengganti kursi sofa rumahnya yang sudah tua, dia tetap menolaknya. Sudah
tak usah, sudah cukup. Itu yang selalu beliau katakan dan terkenang sampai
sekarang,'' ujar Lukman. Pribadi Lafran juga dikenal santun dan sabar.
Ads
Selain itu, meski dia merupakan pendiri HMI, sikap Lafran terhadap
organisasinya itu pun biasa saja. Dia sama sekali tak pernah merasa sebagai
orang ”yang punya” HMI. Bahkan, dia bersikap santai meski sosoknya kerap tidak
dikenali lagi oleh para kader mudanya. ''Sering kali setiap ada 'training' Pak
Lafran hadir untuk memberikan materi pengaderan. Dan, kerap beliau tak ada yang
mengenalinya. Akibatnya, sangat lazim bila dia malah tak boleh masuk ruangan.
Uniknya dia tak marah, malah duduk santai di belakang. Celakanya, karena selalu
memakai baju safari, Pak Lafran kadang dianggap sebagai intel yang tengah
memata-matai aktivitas HMI,'' kata Lukman.
Bila dilihat dari berbagai arsip yang ada, HMI memang tak bisa
lepas dari sosok Lafran Pane. Dalam sebuah artikelnya di majalah Media nomor: 7
Thn. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957, dituliskan: “Sesungguhnya, tahun-tahun
permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran
Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mula kelahiran HMI,
kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya.”
Jadi, bila situasi ini kemudian dibandingkan dengan situasi HMI
pada masa kini, sebenarnya para kader organisasi itu sudah punya cermin besar.
Cendekiawan Yudi Latif memberikan tempat khusus kepada Lafran yang meninggal
pada 25 Januari 1991 itu. Menurutnya, dalam buku Geneologi Intelegensia Muslim
Indonesia Abad ke-20, Lafran Pane merupakan generasi ketiga intelegensia Muslim
Indonesia, setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim, dll), generasi
kedua (M Natsir, M Roem, dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi
keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim, dan Djohan Efendi pada
1970-an).
BUDI SANTOSO (BS)
Mandailing Natal 06 November 2018
Salam BS

Super Sekalo kanda...
BalasHapusYakusa!!!